.: everybody has secrets – continue :.

November 19, 2009

Cita-cita

Filed under: curhat — cepi @ 10:26 am

Dulu waktu saya masih kecil, SD gitu lah (saya SD sekitar tahun 1980-an sampe hampir 1990), sering banget ada temen yang minta diisikan buku biodata: nama, alamat, dll, bukunya lucu2 gitu deh. Dan salah satunya adalah Cita-cita.
Kalau diingat-ingat, dulu rata-rata temen-temen saya yang lain itu cita-citanya adalah… menjadi INSINYUR PERTANIAN. Kesannya keren banget gitu. Kenapa insinyur pertanian???? Ya ga tau juga yah. Atau dokter mungkin. Profesi lain sih kurang tersentuh, mungkin karena anak-anak SD (jaman dulu) blm banyak tahu profesi apa saja yg ada di dunia ini. Saya sendiri lupa, dulu cita-cita saya mau jadi apa (hehehe).
Kemudian, waktu kelas tiga SMA, kita sudah mulai disibukkan lagi dengan Cita-cita ini, karena pendidikan yg akan ditempuh selanjutnya akan sangat menentukan, akan jadi apa kita nanti. Terus terang, dulu waktu kelas tiga SMA, saya sendiri belum tahu saya mau jadi apa. Saya senang mata pelajaran exacta: matematika, IPA (Fisika/Biologi/Kimia), dan sangat tidak suka mata pelajaran sosial: IPS (Geografi/sejarah/ekonomi) dan sebangsanya. Bukan karena apa-apa sih, tapi lebih karena saya selalu merasa tertantang untuk mengerjakan hitung2an yg ada kalkulasinya, dibanding harus menghafal (karena kapasitas otak gak banyak haha). Nah, dari mata pelajaran yg saya senangi itu, terus kalau dipetakan ke jurusan kuliah, maka gambaran umumnya saya harus ke jurusan Teknik, tapi masih gak tau Teknik apa: apakah Teknik Kimia, Teknik Mesin, Teknik Fisika ? Waktu ikut bimbel, dan ada try out untuk masuk univ, saya milih jurusannya macam2, mulai dari Teknik Kimia, Industri, bahkan sampai Penerbangan.. (Orang tua saya pengennya saya jadi dokter btw). Namun pas akhirnya, utk ujian masuk beneran, akhirnya saya pilih Teknik Informatika, hanya karena (katanya) passing gradenya sangat tinggi –> jadinya saya merasa tertantang untuk masuk (bukan karena saya suka IT hahahahaha…). Alhamdulillah masuk, dan jadilah saya 4 tahun kuliah di sana.
Waktu kuliah sih.. ada pelajaran yg saya suka, ada yg tidak. IP saya biasa-biasa saja.. kalau dulu di SMA hampir selalu masuk rangking atas, selama di kuliah kayaknya saya masuk papan tengah :) Setelah lulus, saat2 awal saya masih cari pekerjaan terkait IT. Kemudian, setelah pekerjaan berikutnya, tahu-tahu saya diperkenalkan pada dunia lainnya yang bukan IT, dan ternyata sangat menarik :) Lucu juga, jadinya sekarang kalau nanti dikaruniai anak (Amieeeennn..) saya malah maunya anak saya masuk sekolah bisnis / manajemen ajah, karena sepertinya (kata saya) dunianya lebih menarik. (Tapi kayaknya para penggila IT bisa protes ya hihihi). Anyway, masalah dunia mana yg lebih menarik mungkin tergantung pada jiwa dan personality seseorang juga ya, dia lebih suka yang mana. Setelah mengenal banyak dunia, akhirnya saya tahu bahwa saya tidak terlalu suka bekerja di sektor IT, tapi pengetahuan IT yang saya peroleh dulu sangat sangat sangat bermanfaat dalam menunjang pekerjaan saya saat ini. Pola pikir saya sangat terbantu, apalagi kalau misalnya saya butuh dibuatkan suatu program, maka saya lebih bisa membantu menstrukturkan masalahnya. Kadang kalau orang tdk mengerti IT, maka akan sulit menyampaikan apa saja kebutuhannya kepada orang IT, dan orang IT nya makin mumet utk menerjemahkan apa yg dimaui user ke dalam programnya :)
Jadi moral of the story, pekerjaan tidak harus selalu related dengan kita kuliah di mana, tapi pembelajaran dan tantangan akan selalu ada seumur hidup kita :)

November 5, 2009

Seoul Trip

Filed under: jalan-jalan — cepi @ 3:23 pm

Minggu lalu saya ke Seoul, business trip. Tapi yang saya ceritakan yang part of non businessnya saja ya…
Saya ingat sangat excited waktu pertama kali dikasi tau akan pergi ke sana. Soalnya, saya penggemar drama-drama Korea (lebih suka drama-drama Korea daripada Cina/Jepang, bahasanya juga lebih enak di telinga), dan pemandangan indah-indah, apalagi kalo lagi autumn dan winter. Ditambah lagi, saya juga senang karena rasanya experience Asia Timur hampir lengkap (ya iya lah negaranya cuma dikit), secara saya sudah pernah ke Jepang dan Taipei (berarti yang belum tinggal Cina dan Korut saja). Hehe, padahal Asia Tenggara saja baru ke Singapur dowang (dan masih belum berminat ke daerah lainnya).
Karena perginya rombongan, kemudian ada guidenya, persiapan tidak seheboh seperti biasanya. Visa, hotel, sudah diurus semua. Yang agak heboh mungkin hanya baju saja. Sebenarnya saya optimis suhu di sana tidak akan terlalu dingin (paling dingin kayaknya cuma 15 derajat C aja, itu pun malam hari), tapi karena kata guidenya dikhawatirkan suhu bisa sampe 6 derajat, ya sudahlah, better be prepared daripada kedinginan. Akhirnya pas nganter mertua ke ITC Mangga Dua, sekalian saja saya berburu longjohn 2 (saya ndak punya), sarung tangan yg setengah kulit (jadi ga tembus air), sementara jaket saya masih ngandelin jaket yg saya punya.
Perlengkapan lainnya standar lah, masih bawa popmie 3 (untuk jaga-jaga saja, karena guidenya menjamin mereka akan membawa kita ke local restoran yang ga pake pork) dan sambal ABC sachet. Perlengkapan mandi malah ga bawa (cuma odol, sikat gigi sama sabun muka saja, karena sabun pasti ada di hotel). Nginep di JW Marriott Seoul (bintang 4), rasanya perlengkapan mandi harusnya lengkap lah ya.
Minggu malam (tgl 25) berangkat pakai Garuda, tengah malam non stop ke Seoul (dijadwalkan sampai besok paginya). Ini pertama kalinya saya pakai Garuda untuk perjalanan ke luar negeri (pernah pakai Singapore Airlines – SQ, MAS, KLM, Kuwait Airways). Pesawatnya lumayan nyaman, hanya pilihan filmnya tidak sebanyak SQ, kemudian juga makanannya tidak seroyal SQ. Nilai plus lainnya gak usah pusing-pusing pakai bhs Inggris, karena pramugarinya orang Indonesia hehe. Dalam 6 jam 40 menit perjalanan, hanya dapat 2 kali snack (juice + kacang), dan 1 kali makan berat.
Sekitar jam 8.30 waktu setempat (WIB + 2 jam), kami mendarat di Incheon, kota kecil di luar Seoul. Landingnya sangat halus (biasanya experience dengan Garuda, landing cukup menghentak), mungkin antara pilotnya memang jago atau landasannya yang oke banget. Kemudian saya pernah baca di majalah di SQ, bahwa Incheon termasuk 5 bandara terbaik di dunia (yang lainnya adalah Changi, Schiphol, dan yang dua lagi saya lupa). Jadinya ga sabar juga, pengen experience senyaman apa sih Incheon.
Begitu sampai, ke toilet (bersih banget), kemudian imigrasi (gak panjang antrinya), naik kereta ke terminal sebelah luar (kurang lebih seperti di Singapur atau KL), dan akhirnya kita dijemput naik bis.
Dari Incheon, kami di bawa sarapan di resto yang masih di Incheon juga. Sarapannya pakai Udon (lho kok makanan Jepang?). Ga tau deh, tapi yang pasti Udonnya enaaaak :)

Udon

Udon

Ok, here are my reviews:

About SEOUL
Saya terkejut, ternyata Seoul sangat padat. Mobil-mobil juga banyak buanged, dan kemacetan bertebaran di mana-mana (walau lebih tertib daripada di Jakarta). Ternyata menurut guide kami, harga mobil di Seoul itu murah banget, sehingga minimal 1 keluarga akan punya 1 mobil (jika dikonversi, kurang lebih harga 1 mobil = Rp 50 juta). Namun hal ini dikompensasi dengan harga bensin yang sangat mahal, per liternya jika dikonversi setara dengan kurang lebih Rp 15,000 (wow..).
Kepadatan Seoul membuat saya mem-browse Wikipedia, dan ternyata penduduk Seoul jauh lebih banyak dari Jakarta, dan jika dibandingkan dengan luas kota, maka kepadatan penduduk di Seoul pun jauh melebihi Jakarta.
Berada di Seoul pun membuat saya teringat dengan Tokyo, karena dua kota ini mirip (sama-sama penuh kanji kali ya hihihi, tapi juga sama-sama padat). Setelah mengconsult Wikipedia lagi, ternyata Seoul, Tokyo dan Jakarta sama-sama termasuk 12 kota terpadat dan dengan populasi paling banyak di dunia (click here for the complete info): Seoul di posisi 8, Tokyo di 11 dan Jakarta di 12.

WHAT TO SEE

Tidak semua objek wisata di Seoul bisa dikunjungi. Selain keterbatasan waktu, juga karena lamanya pergerakan dari satu tempat ke tempat lain (kita pakai bus, dan macet), maka hanya tempat-tempat ini yang sudah kita kunjungi:
1. Namsangol Hanok Village, untuk melihat rumah tradisional Korea (katanya ada 5 rumah) yang di-reserve di tengah-tengah kota Seoul (jadi lucu suasananya, karena dikelilingi gedung-gedung tinggi).

Namsangol Hanok Village

Salah satu rumah tradisional Korea di Namsangol Hanok Village

2. Kimchi School, tempat untuk memperkenalkan bagaimana membuat Kimchi ke turis. Kita sempat belajar bagaimana membuat dan membungkus Kimchi. Cuma kita kira di akhir sesi kita bakal dikasi Kimchi yg kita buat, taunya ngga (mungkin karena Kimchi-nya masih harus didiamkan selama beberapa hari dulu).

Kimchi yang dibuat sendiri di Kimchi School

Kimchi yang dibuat sendiri di Kimchi School

3. Gyeongbokgung Palace, dengan National Palace Museum of Korea di dalamnya. Kalau tidak salah, kita sempat berhenti di depan rumah Presiden, yang lokasinya juga dekat dengan Gyeongbokgung Palace ini. Bangunannya bagus banget, apalagi dikelilingi pohon-pohon dengan suasana musim gugur.

Gyeongbokgung Palace

Gyeongbokgung Palace

National Palace Museum of Korea

National Palace Museum of Korea

Rumah Presiden

Rumah Presiden

4. Lokasi shopping: Itaewon, Dongdaemoon, (apalagi ya saya lupa).
5. Nonton performance Nanta di Nanta Theater, yang ternyata baguuus banget. Jadi ini semacam performance musikal tanpa dialog, tapi mereka main musik pakai peralatan dapur: sendok, talenan, panci, ketel, galon aqua, yang dipukul2 jadi musik, dan juga ada atraksi akrobat-akrobat (lempar-tangkap piring), keren deh.

Ini ada foto suasana shopping di Korea :)

Suasana belanja di Korea

Suasana belanja di Korea

Dan ini suasana Seoul

Suasana Seoul

Suasana Seoul

DAFTAR BELANJAAN
Seperti biasa, setiap kali ke luar negeri (apalagi daerah yang jarang jarang didatangi), biasanya saya selalu beli suvenir banyak2 untuk bagi2 “kebahagiaan” dengan rekan2 kantor :) dan juga biasanya suka ada titipan… Titipan yang saya terima saat ini kebetulan dari Petkim Geng, yang sedang gila sama pelm Boys of Flowers (Meteor Garden versi Korea), dan satu lagi dari Siska yang titip kosmetik “Skin Food”. Titipan dengan sukses berhasil didapatkan, dan berikut adalah list suvenir yang sempat saya pertimbangkan dan beli selama di sana:
1. Tempelan kulkas kurang OK, cuma boneka-boneka kecil pake baju Korea, karena agak mahal saya gak beli sama sekali
2. Kipas kertas (saya beli satu)
3. Piring logam dgn ukiran objek wisata Korea (saya beli 4 hehe @10,000 WON)
4. Gelas keramik kecil-kecil, murah banget, 5 gelas = 2500 WON (1 WON kurang lebih Rp 8, saya borong 25 gelas :D )
5. Baju tradisional Korea (mahal banget, saya gak beli)
6. Keramik handmade (haaa ini saya cinta banget, saya beli yang guci2 kecil – 3 guci kecil 6000 WON, terus ada guci dengan 5 gelas kecil, dari 45,000 WON saya tawar ke 30,000 WON – apalagi karena saya sudah belanja banyak banget di situ).
7. Tas kain ala Korea: sebenarnya tas kainnya lucu-lucu, tapi harganya bisa sampai 30,000 – 50,000 WON. Akhirnya saya pilih yang lebih sederhana, harganya 4 buah 20,000 WON.
8. Boneka korea pakai baju korea, dikasi pigura, saya beli dua, 10,000 WON.
9. GINGSENG, terutama karena saya termakan godaan penjual :P katanya gingseng bagus buat kesehatan, saya mau coba beli untuk papa yang kena darah tinggi, tapi harganya muahaaaal bangeeeed (padahal kata penjualnya udah tax free). 3 botol @ 100 gram Gingseng serbuk, USD 225 (bonus 2 kotak teh gingseng).
Oh ya, toko Gingseng yang saya datangi sangat menarik. Mereka sampai menjelaskan seluk beluk gingseng, sehingga akhirnya kami jadi tahu bahwa Gingseng dipanen setelah berusia 6 tahun (di saat gizinya optimal), kemudian saat gingseng berumur 1 tahun maka daunnya akan keluar 1 (bercabang 5), berumur 2 tahun daunnya keluar 2 (bercabang 5 juga), dst — mungkin banyak daun per batang kali ya? Kemudian mereka juga naro Gingseng yang sudah diawetkan dalam arak, dipajang dalam botol, umur 1 tahun spt apa, 2 tahun spt apa, dst. Mereka juga membandingkan Gingseng Korea dengan gingseng Cina, Jepang dan Amerika, dan menurut penelitian (katanya..) gingseng yang paling baik itu adalah gingseng Korea.. Keren banget deh.. niat banget jualannya. Walhasil, saya pun tergoda..

Cuaca, ternyata cukup sejuk (siang-siang bahkan saya tidak perlu pakai jaket), sehingga longjohn, sarung tangan dan jaket tebal pun nganggur dan menuh-menuhin koper.

FOOD
Ehm.. ini ada dua gambar contoh Korean Food hehe…

Chicken Gingseng Soup

Chicken Gingseng Soup

Salah satu menu makan siang ala Korea

Salah satu menu makan siang ala Korea

Menu makan malam

Menu makan malam

PENGALAMAN PULANG
Oh ya, pengalaman pulang ya.. waktu pulang, koper saya hampir tidak bisa ditutup (higs higs). Sempat mikir untuk ‘membuang’ pop mie yang tdk termakan, tapi akhirnya termakan juga. Setelah melakukan repacking sampai 3 kali, akhirnya berhasil juga koper ditutup dengan tidak terlalu men-zhalimi koper (hehe).

Perjalanan pulang pakai Garuda, sama sekali tidak menyenangkan. Dimulai dengan delay setengah jam (pas pergi juga delay, btw), kemudian pesawatnya tidak direct tapi transit dulu di Ngurah Rai 2 jam, pesawatnya juga tidak senyaman seperti waktu berangkat (tidak ada TV per bangku, yg ada hanya 1 TV utk rame-rame dan harus pake headphone untuk mendengarkan, makanannya juga rasanya aneh abis (karena masakan Korea).
Sampai di Ngurah Rai, alamak.. barulah berasa, betapa jauhnya kenyamanan Incheon dengan Ngurah Rai. Usulan saya pertama kali sampai adalah, pleaaaseee renovasi Ngurah Rai sehingga lebih modern dong! Bandara itu mencerminkan muka bangsa, bandara lah yang pertama kali dilihat turis waktu datang. Bagaimana mungkin kita mengharapkan banyak turis datang kalau bandara kita sangat tidak nyaman? (termasuk SKH, saya juga minta direnov saja deh). Ngurah Rai itu terlalu sempit (tidak sanggup lagi untuk menampung penumpang yang sangat banyak), AC kurang dingin lagi, ruang tunggu hampir tidak memadai, jarak antara terminal internasional dan domestik jauh sekali dan harus ditempuh dengan jalan kaki di cuaca luar yang panasnya ampun ampunan.. dan.. pesawat Garuda saya lagi-lagi delay, ga tanggung-tanggung, delaynya sejam! Ya sudahlah akhirnya pasrah saja nunggu di Lounge..

Segitu dulu deh cerita Koreanya, walau menurut saya masih tetep lebih bagus Tokyo, tapi tetap keren juga…. sekarang saya lagi nonton Boys Before Flowers, jadi kangen juga sama Seoul hehehe

October 23, 2009

Ganti lagi ke Fastron

Filed under: curhat — cepi @ 4:44 pm

Setelah sempat berpindah hati ke Prima XP, akhirnya mobil tertjintaku akan balik lagi olinya ke Fastron (10W-40). Sempet konsultasi sama temen, baiknya katanya pakai Fastron saja walau harganya agak beda jauh ya (4 liter Prima XP di koperasi = Rp 90ribu-an, sementara Fastron 10W-40 = Rp 165 ribu). Cumaaaa.. entah kenapa koperasi di belakang itu gak bisa lagi gantiin oli. Jadi beli olinya aja, terus nanti cari bengkel lagi untuk gantiin.. soalnya beli di koperasi itu jauuuuuuuuuuuuuuuh lebih murah daripada beli di luaran…

Sabar ya mobilku sayang, udah 8 ribu km nih blm diganti-ganti olinya :( Kalo nanti sudah ganti Fastron, sampai 10 ribu km juga tahan :) Besok deh kita sempetin cari bengkel..

Seoul, here I come :)

Filed under: jalan-jalan — cepi @ 4:36 pm

Senangnya, akhirnya minggu depan saya berkesempatan mengunjungi negara asal Winter Sonata. Asyik, sudah masuk musim gugur, jadi dingin2 deh. Refreshing sejenak juga dari pekerjaan kantor, cari suasana lain :) Untungnya sekarang ada guidenya, jadi ga usah terlalu khawatir bingung2 ato nyasar mengingat pengalaman di Jepang dulu ribet banget kalo ga ada guide, karena kanji bertebaran di mana2 dan kita pun bingung mau ngomong Inggris karena ga ada yg ngerti. So… Asia Timur yg belum dikunjungi “tinggal” China (dan Hongkong), dan Korut hehehe.. Semoga aja di sana gak ada gempa kayak sering kejadian di Jepang higs higs

October 5, 2009

(Pasca Kampanye): Kemana para parpol di saat bencana alam terjadi?

Filed under: curhat — cepi @ 2:34 pm

Sewaktu bencana Situ Gintung terjadi,
para parpol berebutan memberikan bantuan (dengan mengatasnamakan parpolnya masing-masing).
Hanya karena itu terjadi SEBELUM Pemilu.
Bahkan SELAMA masa kampanye, mereka sibuk membagi2 segala macam bantuan dan sibuk berkelit (dengan berbagai macam alasan) bahwa itu namanya bukan “POLITIK UANG”.
Namun di saat bencana terjadi sesudah kampanye selesai, dan posisi mereka “aman” (atau bahkan tidak aman – sudah pasti kalah), apakah ada perhatian yang diberikan oleh para parpol?
Partai Golkar sibuk melakukan persiapan Munas.
Anggota DPR/MPR lainnya sibuk dengan pelantikan, yang makan biaya bermilyar-milyar.
Memang sih Golput itu sebaiknya dihindarkan.
Tapi kalau melihat tingkah laku para anggota dewan ataupun parpol di Indonesia, saya SENANG SEKALI karena sewaktu Pemilu Legislatif kemarin saya GOLPUT.

Mengenai Pemilu Presiden, saya sebenarnya akan lebih senang kalau JK yang menang. Saya sampai “bela-belain” pulang ke Bandung sesudah suami mencoblos di Jakarta, hanya karena ingin menyumbangkan suara untuk JK. Why JK? Saya rasa JK sudah menyumbangkan banyak untuk negara ini: program Konversi Minyak Tanah ke LPG, program Rusunami. Dan saya pribadi pun pernah diajak bos untuk ikut rapat dgn JK, dan memang pemikiran2nya brilyan (memang dasarnya businessman), dan selalu ingin melakukan segalanya dengan cepat. Walaupun saya kurang suka dengan Golkar (karena mencerminkan orde baru), namun demi negeri ini, saya rasa JK layak diberi kesempatan untuk jadi Presiden. Apa daya, sudah kalah.

Namun, saya tetap berharap bahwa pemerintah Indonesia akan semakin baik dalam membangun negaranya, siapapun presidennya. Kemarin sewaktu dinas ke Singapur, saya rasanya malu sekali. Fasilitator kursus kami, menyatakan bahwa pemerintah Singapur telah membangun semua infrastruktur yang sangat baik untuk rakyatnya. Sarana infrastruktur yang modern, perumahan apartemen yang terjangkau, bandara yang luar biasa, dan bahkan di tengah padatnya penduduk, kita masih dapat melihat banyak pohon-pohon di tengah kota (hampir seperti hutan). Budaya Indonesia jauh lebih kaya dari negara tetangga. Keindahan alam kita pun luar biasa. Tapi sayangnya.. kita sudah mismanagement sejak awal :( Masih belum terbayang di benak saya, bagaimana caranya kalau Jakarta mau kita ubah seperti Singapur ya? Mungkin seluruh penduduk harus dipindahkan dulu, ratakan dulu Jakarta dan bangun lagi dari awal.

Eh kok jadi melantur… however, saya mengucapkan turut berduka cita untuk para korban gempa. Sedih memang waktu baca beritanya (karena saya sedang di Singapur waktu kejadian), apalagi ada ikatan psikologis dengan Padang. Alhamdulillah keluarga selamat, walau dinding retak-retak.
Semoga Allah SWT memberikan ketabahan kepada kita semua untuk menjalani musibah ini.

AMIN..

Next Page »

Blog at WordPress.com.