.: everybody has secrets – continue :.

August 26, 2008

Film yang Diangkat dari Buku

Filed under: curhat — cepi @ 3:29 pm
Tags:

Dibanding koleksi film (DVD/VCD), saya lebih suka koleksi buku. Banyak orang beralasan bahwa kelebihan buku dari film adalah kita lebih bisa mengkhayalkan sesuai keinginan kita. Tapi kalau buat saya, bukan masalah khayalan itu, karena biasanya kalau bukunya bagus saya bacanya super kilat – karena pengen cepet-cepet tau akhir ceritanya. Jadi kalau baca Harry Potter misalnya, yang tebel banget itu, bisa-bisa dari pagi sampai besok paginya lagi cuman baca itu dowang (makanya lebih suka baca buku Harry Potter baru di kos dan bukan di rumah biar gak diganggu hehe), cuma diselingi sama ke toilet, makan, sholat, dan hal-hal wajib lainnya. Buat saya, buku lebih bisa bercerita banyak, baik yang tersirat ataupun tersurat.

Yang paling sebel, kalau ada buku laris, kemudian jadi film. Yah sudah sering lah kejadian, contohnya Timeline-nya Michael Crichton (ini mah nonton filmnya sama si Dian di Atrium), terus Harry Potter, Eragon, Da Vinci Code, sampai ke film Indonesia seperti Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, bahkan Eiffel I’m in Love. Beda sama Eiffel I’m in Love yah — saya kok gak suka ceritanya, baik buku ato filmnya, norak abis deh, dan ABG banget. Tapi kalau film-film lainnya itu diangkat dari novel laris semua. Dan memang saya suka banget bukunya. Tapi begitu jadi film wadudududuh…. rusak deh semuanya. Bukan masalah khayalan yang rusak, tapi ya kok jalan ceritanya jadi jelek begitu.

Tentang film Ayat-ayat Cinta, dan juga the future Ketika Cinta Bertasbih… saya sih gak nonton film Ayat-ayat Cinta, cuma liat secuplik-secuplik klip di laptop. Tapi itu juga sudah berasa aneh. Jadinya ya udah, gak berasa rugi gak nonton filmnya. Cuma kok saya rasa.. sayang saja novel sebagus itu difilmkan. Rasanya jadi rusak.. Dan filmnya juga malah lebih mementingkan sisi komersialnya sehingga jalan ceritanya diubah. Kalau film KCB nanti juga begitu, ogah ah nonton.

Sebenarnya saya pengen film seperti AAC atau KCB bisa jadi sarana mendidik para remaja sekarang, karena seakan-akan gaya hidup bebas sekarang sudah sangat populer dan tidak aneh lagi. Ini ditandai dengan berbagai macam film Indonesia yang ‘kebablasan’. Judulnya super duper ajaib pula, tapi yang pasti serem-serem gitu deh. Tapi masalahnya, film yg berbau islami ini, kalau yang diangkat malah sisi komersialismenya ya sama aja.. (walau not as bad as other movies ituh).

Anyway, saya tetap menganggap buku adalah sarana terbaik untuk mendidik. Membaca AAC atau KCB benar-benar bisa menyejukkan hati. Semoga pengarang seperti Habiburrahman el Shirazy semakin banyak deh, sehingga buku-buku yang memang bermutu dan bermanfaat bisa lebih banyak lagi diterbitkan.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: